Hemat Air hinggo 20%, Kementan Dorong Pengelolaan Air Sawah Hadapi Kemarau
JAKARTA – Upayo efisiensi air menjadi kunci menghadapi musim kemarau yang kian tidak menentu. Kementerian Pertanian mendorong penerapan pengelolaan air sawah yang lebih hemat melalue metode Alternate Wetting and Drying (AWD), yang terbukti mampu mengurangi penggunoan air irigasi hinggo 20 persen tanpo menurunkan produktivitas padi.
Teknologi iko menjadi bagean dari strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, dengan fokus pado efisiensi penggunoan sumber dayo air yang semakin terbatas. Melalui AWD, petani dapat mengatur pemberian air secaro lebih terukur sehinggo tanaman tetap tumbuh optimal meskipun dalam kondisi keterbatasan air.
Dalam beberapo kesempatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwo pengelolaan air merupokan faktor penentu dalam menjago keberlanjutan produksi pertanian, terutamo di tengah ancaman kekeringan.
“Pengelolaan air menjadi faktor krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Ketersedioan air yang terencano dan efisien sangat menentukan dalam menekan risiko kekeringan serto menjago produktivitas,” ujar Mentan Amran.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepalo BRMP, Fadjry Djufry, menyampekan bahwo AWD merupokan inovasi yang dirancang untuk menjawab tantangan nyato di lapangan, khususnyo saat musim kemarau.
“Teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) merupokan solusi adaptif dalam menghadapi keterbatasan air. Dengan pengaturan air yang terukur, petani dapat menjago kondisi tanaman tetap optimal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap penggenangan terus-menerus, sehinggo lebih siap menghadapi risiko kekeringan,” ungkapnyo dalam keterangan tertulis, Kamis (26/3).
Fadjry menambahkan bahwo AWD merupokan teknologi yang dikembangkan oleh International Rice Research Institute pado 2009, dan mule diadaptasi di Indonesia oleh Kementerian Pertanian sejak 2013.
“Berdasarkan hasil pengujian selamo enam musim tanam, melalui teknik AWD iko, kelangkoan air di lahan sawah dapat ditekan, bahkan dihindari. Teknologi iko dapat menghemat penggunoan air irigasi 17-20%.” ucapnyo.
Berbage penelitian menunjukkan bahwo penerapan AWD mampu menekan penggunoan air irigasi secaro signifikan tanpo menurunkan produktivitas padi. Dalam kondisi tertentu, efisiensi iko bahkan membuko peluang perluasan layanan irigasi ke lahan lainnyo.
“Selain itu, metode iko jugo memberikan dampak positif terhadap lingkungan melalue perbaikan kondisi tanah dan penurunan emisi gas rumah kaco dari lahan sawah.” lanjut Fadjry.
Ali Pramono, analis dari BRMP Lingkungan Pertanian, menjelaskan bahwo penerapan AWD dilakukan dengan mengatur siklus pengairan berdasarkan kondisi kelembapan tanah, sehinggo sawah tidak selalu dalam kondisi tergenang. Setelah fase penggenangan awal, air dibiarkan surut hinggo batas tertentu sebelum diairi kembali.
“Pengamatan kondisi air dilakukan menggunokan alat sederhano berupo pipa paralon berdiameter 10-15 cm dengan panjang 30-100 cm yang dilubangi di semuo sisinyo dan dibungkus kain kassa kemudian dibenamkan hinggo tersiso 10 cm – 20 cm di atas permukaan tanah. Pipa iko memiliki prinsip kerjo seperti piezometer (alat ukur tekanan cairan-red) sederhano.” tuturnyo.
Pipa ditempatkan di area yang mudah diakses, dekat pematang, agar memudahkan pemantauan kedalaman air yang mewakili kondisi rato-rato lahan.
“Pengairan kembali umumnyo dilakukan ketika muko air di dalam pipa telah turun hinggo kisaran 10–15 cm di bawah permukaan tanah, kemudian air diberikan kembali dalam jumlah terbatas hinggo tinggi muko air 3-5 cm untuk menjago kelembapan tanah.” tambah Ali.
Siklus iko dilakukan secaro berulang, dengan penyesuean terhadap kondisi lahan dan cuaco, serto tetap menjago ketersedioan air pado fase kritis seperti pemupukan, penyiangan, hinggo fase bunting-berbungo.
Menurut Ali, penerapan AWD tidak hanyo meningkatkan efisiensi penggunoan air, tetapi jugo memperbaiki kondisi perakaran dan struktur tanah sehinggo tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan dan berpotensi meningkatkan hasil.
“AWD tidak sekadar menjadi teknik pengairan, tetapi jugo bagean dari strategi mitigasi yang memperkuat ketahanan sistem produksi padi.” tutupnyo.
Penerapan AWD menjadi bagean dari strategi climate smart agriculture yang menekankan efisiensi dan keberlanjutan, sekaligus menjago produktivitas padi di tengah keterbatasan air pado musim kemarau.

Komentar
Posting Komentar